| Pengelolaan Lingkungan Terpadu (PELITA) |
| Program ini dirancang untuk menciptakan model pendidikan
lingkungan alternatif yang aplikatif dan kontekstual bagi masyarakat.
Lewat program ini diharapkan kesadaran komunitas akan pentingnya pengelolaan
lingkungan hidup meningkat.
Bidang yang digarap adalah:
1.Manajemen sampah rumah tangga.
2.Budidaya: pertanian organik di perkotaan, perikanan darat dan
peternakan ayam Arab.
3.Ecological Sanitation.
Model garapan ini, bisa dilihat di areal PUSDAKOTA seluas 1800
m², di Jl. Rungkut Lor III/ 87 Surabaya dan RT 4/ RW 14, Rungkut
Lor Surabaya yang merupakan dampingan Pusdakota
I. Manajemen Sampah Rumah Tangga
Volume sampah di Surabaya mencapai 8700 M3 per hari dan belum tertangani
secara baik. Tiga pilar perkotaan, pemerintah, sektor swasta, dan
komunitas diharapkan bisa memecahkan persoalan sampah secara sinergis.
PUSDAKOTA berpartisipasi memecahkan masalah sampah memakai pendekatan
teknososial, dengan mengintegrasikan aspek teknologis dan
sosiologis. Pendekatan teknologi, harus ada untuk mengolah sampah
organik menjadi pupuk dan sampah anorganik menjadi produk daur ulang.
Tetapi itu tidak cukup. Haruslah diciptakan iklim yang mendorong
perilaku perilaku yang abai terhadap pengelolaan sampah.
Pusdakota aktif mengorganisasikan masyarakat untuk peduli pada
lingkungan hidup sejak tahun 2000. Kampung yang kini menjadi percontohan
di bidang lingkungan adalah RT 4 RW 14, Kelurahan Kalirungkut,Surabaya.
Sejak tahun 2001, warga kampung ini dengan sadar memisahkan sampahnya
menjadi organik dan anorganik. Sampah organik, oleh karang taruna
setempat dibawa ke Pusdakota untuk diolah menjadi kompos lewat metode
open windrow, bio filter dan takakura susun.
Sejak tahun 2005 ini, warga tidak hanya memisah sampah, tetapi
juga mengolah sampahnya secara mandiri di rumah masing-masing lewat
metode Takakura Home Method. Metode ini sangat cocok dipakai oleh
rumah tangga-rumah tangga di perkotaan, yang ingin mengelola sampah
organiknya, tapi tidak memiliki lahan. Dengan hanya memakai bahan-bahan
murah yang mudah didapat dan tanpa bahan kimia, rumah tangga bisa
mengubah sampah organiknya menjadi pupuk dalam waktu singkat. Metode
ini diperkenalkan pakar sampah dari Jepang, Takakura, dalam
risetnya bersama Pusdakota. Takakura merancang riset pengomposan
skala rumah tangga, semua memakai bahan-bahan lokal Indonesia. Kini,
Pusdakota telah memperoleh paten atas Takakura Home Method.
Kesadaran akan pentingnya kebersihan lingkungan dan pengelolaan
sampah rumah tangga yang ada di RT IV/RW 14, Kelurahan Kalirungkut,
kini juga diikuti semua warga di RW 14 tersebut.
II. Budidaya Tanaman dan Perikanan Air Tawar
II.1 Budidaya Tanaman Toga, Sayur
Organik, dan Tanaman Hias
Pusdakota membudidayakan tanaman toga, tanaman hias dan sayur
organik di lahan seluas 1000 m². Tidak saja di tanah,
budidaya juga dilakukan di pot-pot maupun polibag. Untuk mengelola
lahan pertanian kota, Pusdakota memanfaatkan kompos dari hasil
olahan sampah Pusdakota.
II.2 Budidaya Perikanan Air Tawar
Pusdakota memanfaatkan beberapa bagian arealnya untuk pembudidayaan
perikanan air tawar. Asupan makanan untuk ikan-ikan ini berasal
dari daun-daun pepohonan di Pusdakota. Selain menguntungkan dari
segi ekonomis, manfaat lain dari kolam ikan adalah sebagai resapan
air hujan dan sebagai sumber air yang tersedia di musim kemarau.
III. Ecological Sanitation
Sejak pertengahan tahun lalu, PUSDAKOTA menerapkan teknologi ecological
sanitation (ecosan) di satu dari lim a toilet. Ecosan adalah filosofi
baru yang berhubungan dengan apa yang dulu dianggap sebagai limbah.
Metode ini aman untuk memulihkan nutrient dari sekresi manusia,
lantas mendaur ulang kembali ke lingkungan dan sistem produksi.
Teknologi yang popular di Jerman dan beberapa negara di Eropa ini
merupakan riset 2 mahasiswa tingkat doctoral dari Jerman, yakni
Almy Fitriana M dan Maria Prihandrijanti. Dalam riset ini, di samping
dibantu beberapa staf PUSDAKOTA, juga satu mahasiswa Institut Teknologi
Bandung (ITB) dan 3 mahasiswa Institut Teknologi Surabaya
(ITS). Metode ini memisahkan tinja (brownwater), air hasil mandi
cuci (greywater) dan Urine (Yellowwater). Tinja selanjutnya masuk
ke bak pra-komposting. Bak ini dilengkapi filter untuk menyaring
padatan tinja. Air tersaring inilah yang dipakai untuk memberi nutrien
pada tanaman. Sedangkan tinja padat, kini sedang dalam proses riset
untuk menjadi pupuk yang siap pakai. Air bekas mandi dan cuci juga
masuk ke filter dan dipakai pada tanaman ujicoba. Untuk urine, masuk
ke dalam tanki penampung urine. Tanki ini disimpan satu setengah
bulan dan lansung bisa diujikan pada tanaman tanpa harus ada perlakukan
khusus yang lain. Konsep ecosan sesungguhnya sangat cocok diterapkan
di Indonesia. Ini merupakan upaya melepaskan ketergantungan para
petani terhadap pupuk kimia. Juga, kebutuhan air pada sebuah area
bisa disuplai dari brown water ecosan.Sebagaimana diketahui, sekresi
manusia dan hewan memiliki peranan penting di alam untuk membangun
kondisi tanah yang baik, dan menyediakan nutrisi berharga bagi tanaman.
Produk-produk dari satu organisme (ekskreta), dipakai sebagai bahan
baku bagi organisme lain. Sanitasi konvensional, membuang nutrient
berharga ini dan memutus lingkaran alami yang terbentuk. |