| Pengembangan Karakter Warga |
| SUB PROGRAM PENGEMBANGAN KARAKTER DIFABLE (CONFIDENT) |
Sekitar areal Pendopo Pusdakota, sore hari tidak
hanya ramai oleh anak-anak bermain atau ibu-ibu menyuapi balitanya,
tapi juga, seringkali diramaikan kursi-kursi roda berjajar rapi,
sementara pemakainya berdiskusi di pinggir pendopo.
Mereka, para penyandang cacat (difable) ini, tak lain adalah anggota
Gaya Mandiri, yakni forum penyandang cacat yang berasal dari Rungkut
dan sekitarnya. Pusdakota mengorganisasikan mereka lewat program
Centre on Difable Community Development and Empowerment (Confident).
Seringkali jumlah mereka lebih dari 10 orang karena para difable
ini mengajak pula keluarga mereka.
Bagi Pusdakota, pengorganisasian memang tidak dilakukan pada para
difable itu saja, namun juga keluarga mereka, karena bagaimana pun
keluarga adalah pilar utama kehidupan mereka.
Sementara ini, para difable yang tergabung dalam Gaya Mandiri memiliki
media perjumpaan dan karya, yakni berkebun pertanian organik dan
tanaman obat keluarga. Confident sendiri baru saja diluncurkan menjelang
Ulang Tahun ke-5 Pusdakota, pada 1 November 2006. Program ini masuk
dalam Divisi Pengembangan Karakter Pusdakota. Visinya tak lain adalah
menuju masyarakat inklusif, yakni masyarakat terbuka dan menganggap
semua manusia sederajat.
Confident menerjemahkan visi dan misinya ke dalam tiga program
utama; penelitian, pengembangan komunitas difable, dan pelatihan
pengembangan karakter bagi difable. Program pengembangan dan penguatan
komunitas difable perlu karena kehidupan kelompok difable belum
terintegrasi total dalam kehidupan bermasyarakat.
Kenapa Pusdakota meluncurkan program pengembangan karakter bagi
para difable? Rungkut dan sekitarnya juga dihuni para difable. Rata-rata
mereka terserap dalam sektor industri, di areal Rungkut Industri,
Surabaya. Difable adalah bagian integral masyarakat yang tidak dapat
dipisahkan dari seluruh aktivitas sosial. Sebagaimana anggota masyarakat
lain, difable juga memiliki hak yang sama untuk mendapatkan kesempatan
berpartisipasi dalam aktivitas sosial.
Itu sebabnya, untuk berbagai aktivitas Pusdakota, para difable
juga dilibatkan dan mereka pun berpartisipasi. Misalnya, pada acara
buka puasa bersama dengan tema Kebersamaan dalam Keberagaman, semua
pihak, baik difable maupun non difable, lelaki perempuan, anak-anak
dan dewasa, bahu-membahu mempersiapkan acara.
Pada masyarakat inklusif, semua orang memiliki kesempatan setara
untuk berkontribusi tanpa membedakan suku, ras, agama, dan perbedaan
fisik. Keterbukaaan tidak hanya berhenti pada pengertian terbuka
untuk menerima perbedaan, namun lebih dari itu ada beberapa syarat
yang harus terpenuhi hingga terwujudnya masyarakat yang benar –
benar terbuka.
Ada empat nilai yang harus dipenuhi untuk mewujudkan tatanak masyarakat
inklusif. Pertama, pluralisme, sebuah nilai untuk
menghargai keberagaman. Di dalam masyarakat, keberagaman merupakan
suatu realitas masyarakat karena ia terbangun atas konsensus berbagai
elemen dan berbagai kepentingan. Sehingga keberagaman dalam masyarakat
merupakan sebuah keniscayaan. Maka menerima dan menghormati keberagaman
merupakan suatu syarat mutlak yang harus dimiliki oleh sebuah masyarakat
dalam menuju keterbukaan. Ketidaksediaan menerima perbedaan atau
keberagaman oleh salah satu elemen masyarakat dapat menimbulkan
ketertutupan (exclusivism) salah satu kelompok masyarakat dan bahkan
dapat menimbulkan konflik horisontal antar sesama anggota masyarakat.
Nilai kedua adalah kesetaraan (equality). Yakni
sebuah nilai yang menganut prinsip bahwa setiap individu memiliki
kesetaraan hak dan posisi dalam masyarakat. Tidak seorang pun individu
boleh diperlakukan lebih tinggi ataupun lebih rendah baik secara
hukum maupun sosial dalam masyarakat. Maka, setiap individu tanpa
terkecuali memiliki kesempatan setara untuk berpartisipasi dalam
aktifitas sosial di masyarakat.
Nilai ketiga adalah dignity, yaitu sebuah nilai
yang menjunjung tinggi harkat dan martabat kemanusiaan. Setiap individu
memiliki kelebihan dan kehendak masing-masing. Maka setiap individu
wajib untuk menghargai martabat individu yang lain. |